Kembali Ke Fitri, itulah hal yang selalu orang-orang katakan. Tetapi apakah mereka yang mengatakan hal tersebut mengetahui apa arti dari kembali ke fitri itu sendiri ?
Sebelumnya ayo kita flashback ke hari-hari sebelum kita sampai ke hari yang fitri tersebut. Hal apa saja yang sudah kita peroleh selama bulan puasa ini ? Apakah kita telah menjalani perintah-perintah-Nya dengan benar sesuai ketentuan yang telah Dia berikan ?
Banyak hal yang mungkin kita abaikan dari semua rangkaian ujian yang telah Allah berikan kepada kita. Mungkin ada kalanya kita berniat untuk berpuasa, tetapi pada kenyataannya kita masih belum bisa menguasai hawa nafsu kita, berarti puasa yang telah kita lakukan tersebut tidaklah berarti apa-apa melainkan hanya menahan lapar dan haus saja.
Banyak sekali hal-hal yang diajarkan kepada kita melalui ibadah puasa, diantaranya :
1. Kejujuran, ketika berpuasa orang tidak pernah mau makan dan minum sekalipun tak ada orang yang melihat dan menyadari bahwa dirinya tengah berpuasa. Mereka tetap tidak mau melakukan hal-hal tersebut karena mereka mempertahankan kejujuran tersebut.
2. Kesabaran, orang selalu berusaha untuk menahan diri dan mendidik kita menjadi orang yang patuh. Artinya tidak mau melanggar apa-apa yang telah menjadi peraturan.
3. Dermawan, orang yang bepuasa ikut merasakan begaimana sulitnya lapar dan haus, mereka-mereka yang merasakan lebih menghayati daripada sekedar melihat apalagi mendengar.
Sifat-sifat itulah yang sebenarnya merupakan sifat-sifat yang fitrah, yang harus dimiliki setelah kita menjalani puasa selama satu bulan penuh. Oleh karenanya, kembali kepada fitrah bukanlah hanya sebuah anggapan bahwa kita seperti terlahir kembali di dunia ini, tetapi harus diikuti dengan sifat-sifat terpuji tersebut.
Karena itu, intinya, akhir dari ibadah puasa adalah al-'audah ilal fitrah (kembali kepada fitrah). Kalau tidak kembali ke fitrah, berarti puasa kita tidak berhasil. Sesudah kita kembali kepada fitrah, maka kita harus mampu mempertahankan kefitrahan, yaitu sikap istiqamah. Istiqamah ini harus kita jaga. Dan, menjaga istiqamah paling sulit karena memang godaannya cukup besar, pengaruhnya cukup besar. Walaupun di dalam agama boleh kembali (bila seseorang melakukan kesalahan ia boleh kembali), tapi kita justru harus mempertahankan posisi yang sudah fitri.
Sikap-sikap fitri seperti kejujuran, sabar, dermawan, dan kebaikan lainnya harus tetap ada pada diri seorang Muslim setelah Ramadhan berakhir. Sikap-sikap itu harus kita pertahankan dan kita jadikan perilaku. Dan, yang terpenting dari itu adalah mempertahankan sikap-sikap baik itu dalam kehidupan sehari-sehari setelah Ramadhan. Ringkasnya, al-'audah wal istiqamah (kembali dan konsisten).
Berikut beberapa macam fitrah kita sebagai manusia :
· Fitrah kita adalah bertauhid, tidak syirik
· Fitrah kita adalah taat, tidak suka maksiat
· Fitrah kita adalah suka berbuat baik, benci perbatan buruk
· Fitrah kita adalah menyayangi, tidak membenci
· Fitrah kita adalah memaafkan, bukan pendendam
· Fitrah kita adalah suka memberi, benci kekikiran
· Fitrah kita adalah suka belajar dan mengajar, benci kejumudan
· Fitrah kita adalah pejuang yang berani, bukan pemalas dan penakut